Selamat datang bulan pertama tahun 2015, Januari...
Terimakasih Allah atas suka duka, tawa tangis, sehat sakit. Terimakasih atas
segala yang telah Engkau anugerahkan kepadaku hingga detik ini. Setiap hembusan
hafas yang begitu ringan ini, semua adalah anugerah terindahMu. Bagiku setiap
pagi adalah hari baru, setiap pagi adalah kesempatan. Terimakasih atas nikmat
pagiMu yang masih Kau ijinkan menyapaku hingga pagi ini. Semoga hari ini lebih
baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Aamiin. Terimakasih,
terimakasih, alhamdulillah.
Aku benar-benar ingin merubah pola pikir, aku ingin punya
semangat baru, pencapaian yang tak akan aku lupakan di tahun ini. Inginku hanya
memikirkan hal-hal positif untuk hidupku. Jatuh bangun akhir tahun lalu sudah
cukup menguras energi dan air mataku. Aku tidak ingin bulan baru yang indah ini
masih dipenuhi pikiran-pikiran negarif dan air mata. Aku sudah terlalu lelah
dan lemah. Sudah cukup! Aku juga butuh bahagia tanpa syarat apapun. Let’s begin
myself. Ayo kita mulai diriku sendiri. Aku akan memulainya dengan satu
ketegasan terhadap diriku sendiri.
JANGAN JAHAT. Tanpa sadar aku adalah orang paling jahat
terhadap diriku sendiri. Sudah terlalu sering diri ini tak mau berkompromi dengan
diriku sendiri. Andai hati ini tak sekeras batu karang mungkin rasa kecewa yang
aku rasakan tak akan sedalam ini. Aku telah mencoba dan selalu memaksa diri ini
melakukan hal-hal yang bukanlah menjadi kuasaku untuk melakukannya. Aku
benar-benar telah menyiksa diriku sendiri. Manusia paling jahat terhadap diriku
sendiri. Bagaimana Allah bisa menyayangiku kalo aku sendiri tak mampu
memperlakukan diriku sendiri dengan baik. Bukankah diri ini juga merupakan
titipan yang harus aku jaga dan aku sayangi sepenuh hati? Mohon maafkan aku
Rabb...
Mulai saat ini aku tak mau lagi memaksakan hal-hal yang
menjadi kuasa Allah untuk mewujudkannya. Aku harus memperbaiki ikhtiar-ikhtiar
dan niatku. Ya aku harus segera berubah. Aku tak mau jadi orang yang merugi,
sudah cukup banyak waktu yang telah aku siakan. Sudah tak terhitung lagi air
mata yang sudah menetes, sudah terlalu banyak energi dan pikiran yang terkuras
untuk merenungi ini semua. Sudah Cukup! Let’s begin, to be a better person.
Sudahlah setidaknya sedikit demi sedikit aku mulai menemukan ketenangan, kedamaian dalam hati. Aku hanya harus mengabaikan hal-hal yang tidak penting disekitarku. Aku hanya harus fokus pada diriku sendiri. Kata Allah, aku harus bersabar sedikit lagi. Buah kesabaran ini pasti akan segera datang. Dengan dukungan penuh dari keluarga tercinta, mama bapak kakak-kakak dan ponakan kesayangan aku pasti bisa melewati ini dengan hasil kemenangan.
Aku tak mau lagi menyebut ini sebagai resolusi, karena ketika hal ini aku jadikan resolusi pada awal tahun lalu dan menduduki urutan pertama dalam daftar resolusiku tahun 2014, namun justru malah menjadi hal terpenting yang tak terealisasi. Inilah yang menjadi awal kekecewaan terbesarku, awal keterpurukanku. Ya, aku memimpikan pernikahan. Hati ini benar-benar diliputi kegelisahan yang benar-benar tak mampu aku tahan. Sekuat aku menahan sekuat itu pula air mataku mengalir dengan derasnya. Seringkali aku bertanya pada Rabbku, jodoh itu yang seperti apa sih ya Allah? Kenapa sulit sekali aku menemukannya. Kenapa aku merasa orang-orang disekitarku begitu mudahnya bertemu dengan jodoh bahkan dengan cara-cara yang tak Engkau ijinkan. Sedangkan aku yang selalu berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang Engkau larang tetapi tak juga Engkau ijinkan untuk bertemu dengannya.
Ah itu hanya pikiran liar sepintasku, yang sesaat kemudian aku lupakan dan aku akan terus fokus dengan prasangka baikku kepada Allah. Bukankah Allah itu sesuai prasangka hambaNya?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja' (harap) padaNya.
Cara terbaik untukku saat ini adalah terus istiqomah dan terus memupuk keyakinan akan ada kemudahan sesudah kesulitan-kesulitan yang aku hadapi. Ini benar-benar sesuai dengan janjiNya "bersama kesulitan ada kemudahan" (QS. Al Insyiraah: 5). Terus berpikir positif dan mengabaikan hal-hal yang tidak penting, itulah yang harus selalu aku sugestikan dalam-dalam pada diriku. Karena bagaimana hati ini bereaksi akan sejalan dengan apa yang aku pikirkan. Kalo aku pikir ini baik maka akan jadi baik dan sebaliknya. Pikiran adalah bagian dari fungsi hati, seperti dijelaskan dalam ayat berikut: "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang
dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada" (QS. Al Hajj: 46)
Salah satu fungsi hati ialah untuk memahami. Memahami adalah salah satu proses berpikir. Maka berpikir itu salah satu bagian dari pekerjaan hati, selain merasakan. Jika hati kita baik maka seluruhnya akan baik. Seperti hadits ini "Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati." (HR. Bukhari)
Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi semua hidup kita. Maka kita harus berhati-hati dengan pikiran kita, usahakan agar pikiran kita selalu memikirkan yang baik, positif dan indah sebab akan diwujudkan oleh tubuh dan hidup kita. Ada suatu prinsip tentang pikiran yang sering dikatakan oleh para motivator, yaitu "Bila Anda pikir Anda bisa, maka Anda bisa... Tetapi bila Anda pikir Anda tidak bisa, maka Anda tidak bisa."
Selamat menyambut hari baru, semangat baru. Tetaplah tersenyum, karena dibutuhkan 43 otot untuk cemberut dan hanya 17 otot untuk tersenyum. Kalo kata sahabatku "Percaya aja sama Allah, keyakinan sama Allah harus terus dipupuk. Jangan ambil tugas Allah. Tugas kita cuma berusaha. Libatkan Allah dalam sekecil apapun urusan kita, bahkan untuk memilih menu makanan sekalipun." Nasehat yang sangat indah, terimakasih sahabat kesayangan. Jazaakillahu khayran, barakallahu fiik :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar